Gebrakan Kreatif OSIM MA Manbail Futuh: Tutup Muhadloroh dengan Sentuhan Tradisi "Tedak Siten"

MA Manbail Futuh – Ada yang berbeda dengan gelaran Muhadloroh Penutupan OSIM MA Manbail Futuh pada Selasa (19/5) kali ini. Alih-alih hanya diisi dengan pidato normatif, acara pamungkas yang memadati Auditorium Lantai 3 ini justru disulap menjadi panggung budaya yang sarat makna. Seluruh rangkaian acara dan penampilan malam itu murni digerakkan oleh dedikasi penuh para pengurus OSIM sendiri. Mereka secara cerdas mengadopsi filosofi ritual adat Jawa, "Tedak Siten", sebagai tema utama. Langkah berani ini sengaja diambil bukan tanpa alasan; selain sebagai wadah mengasah mental public speaking, momen ini sekaligus menjadi simbolisasi bagi para siswa untuk siap menapaki anak tangga masa depan yang lebih tinggi. Sejak awal dibuka, atmosfer religius langsung terasa kental di dalam ruangan, diawali dengan gema lantunan ayat suci Al-Qur’an serta pembacaan Mahalul Qiyam yang diikuti oleh seluruh hadirin dengan penuh kekhusyukan. Selepas itu, Ketua OSIM bersama Pembina OSIM bergantian naik ke podium untuk menyampaikan apresiasi mendalam atas konsistensi serta semangat belajar seluruh siswa sepanjang periode ini.

Daya tarik utama acara ini memuncak saat para pengurus OSIM menyajikan visualisasi prosesi adat Tedak Siten secara langsung di hadapan audiens. Ruangan sempat hening penuh khidmat saat rangkaian ritual mulai diperagakan, mulai dari filosofi melangkah di atas jadah tujuh warna yang menggambarkan dinamika rintangan hidup, hingga momen menaiki anak tangga ritual sebagai simbol keteguhan hati dalam mengejar cita-cita yang tinggi. Namun, suasana khidmat tersebut seketika pecah dan berubah menjadi sangat meriah saat masuk pada reka adegan anak dituntun untuk masuk ke dalam kurungan ayam raksasa. Ledakan tawa penonton sebenarnya sudah tidak terbendung sejak awal sesi ini dimulai, lantaran sosok "Ibu" yang menuntun sang anak ternyata diperankan secara totalitas oleh salah seorang anggota OSIM laki-laki dengan dandanannya yang menggelitik. Suasana semakin riuh saat personel OSIM yang berada di dalam kurungan berakting bingung layaknya bayi, berebut memilih antara mobil-mobilan dan peralatan dokter-dokteran, hingga akhirnya berujung "ngedot" bareng yang sukses mengocok perut seisi ruangan.

Keseruan itu ternyata terus berlanjut hingga masuk ke sesi sungkeman. Berbeda dengan prosesi adat aslinya yang biasa menguras air mata, momen sungkeman kali ini justru gagal melow dan tetap dipenuhi tawa riuh penonton. Hal ini lantaran audiens masih terpingkal-pingkal menyaksikan tingkah kocak pasangan "suami istri" tiruan yang sesama pengurus OSIM beserta anak bayinya yang terus saja bertingkah jenaka di atas panggung saat bersimpuh memohon doa restu kepada tokoh kakek dan nenek. Meski dikemas dengan penuh banyolan yang menghibur, esensi dari visualisasi ini tetap tersampaikan dengan baik sebagai pengingat akan pentingnya bakti dan rida orang tua dalam setiap langkah hidup.

Sebagai penyempurna dari filosofi tradisi Tedak Siten tersebut, acara kemudian dilanjutkan dengan penyampaian Mauidhoh Hasanah yang dibawakan oleh salah satu anggota OSIM dengan nama panggung menterengnya, KH. M. Fathullah Dzil Minan, S.Ppg., M.Bg. Sesi ini berlangsung dengan penyampaian yang lugas dan biasa tanpa bumbu guyonan, fokus pada untaian wejangan mendalam serta penjelasan terperinci mengenai makna dan filosofi di balik tradisi Tedak Siten yang diangkat.

Melalui wejangan materi yang dibawakan, seluruh siswa MA Manbail Futuh yang telah merampungkan program muhadloroh ini diingatkan kembali agar benar-benar siap "menginjakkan kaki ke bumi" dengan pondasi karakter yang kuat, cakap dalam berkomunikasi, sekaligus memiliki mentalitas pemimpin yang adaptif di tengah masyarakat. Agenda kreatif yang penuh tawa sekaligus sarat makna dari, oleh, dan untuk OSIM ini pun akhirnya resmi dipungkas dengan pembacaan doa bersama yang berlangsung khidmat